Kemaksiatan melahirkan kemaksiatan
lainnya Sesungguhnya kemaksiatan yang dilakukan
seorang hamba akan melahirkan kemaksiatan-
kemaksiatan yang lain, sehingga pelakunya susah
dan berat meninggalkannya. Sebagian salaf
mengatakan: “Sesungguhnya diantara
hukuman keburukan adalah terjadinya
keburukan setelahnya, dan sesungguhnya di
antara pahala kebaikan adalah kebaikan
setelahnya”. Jika seorang hamba telah
melakukan sebuah kebaikan, maka kebaikan yang
berada di dekatnya mengatakan: “Hendaklah
engkau mengamalkan aku juga!”. Jika dia telah
mengamalkan kebaikan kedua, maka kebaikan
ketiga akan mengatakan seperti itu juga , dan
begitu seterusnya. Sehingga kebaikan selalu
bertambah dan keuntungan berlipat ganda.
Sebaliknya, keburukan juga seperti itu. Maka
akhirnya ketaatan dan kemaksiatan itu menjadi
sifat yang melekat dan keadaan yang tetap ada
pada pelakunya. Jika seorang muhsin (orang
yang sudah terbiasa berbuat ketaatan dengan
sebaik-baiknya) meninggalkan ketaatan-ketaatan,
maka jiwanya tertekan, bumi yang luas terasa
sempit, dan dia merasa seperti ikan yang
meninggalkan air. Sampai dia kembali
melaksanakan ketaatan-ketaatan, maka jiwanya
akan menjadi tenang dan hatinya menjadi
tenteram. Sebaliknya, jika seorang mujrim (orang
yang sudah terbiasa melakukan kemaksiatan-
kemaksiatan yang besar) meninggalkan
kemaksiatan dan menuju ketaatan, maka jiwanya
tertekan, dadanya terasa sempit, sampai dia
terbiasa melaksanakan ketaatan-ketaatan (Lihat
Ad-Da' wa Dawa' karya Ibnul Qoyyim Al-
Jauziyah)
Hal ini diisyaratkan di dalam sebuah hadits Nabi
Muhammmad saw dengan sabda Beliau
“Hendaklah kamu selalu jujur, karena
sesungguhnya jujur itu akan menuntun menuju
kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu akan
menuntun kepada surga. Dan tidaklah seseorang
selalu berkata jujur dan berusaha menetapi
kejujuran, sampai dia ditulis di sisi Allah swt
sebagai orang yang sangat jujur. Dan hendaklah
kamu selalu menjauhi dusta, karena
sesungguhnya dusta itu akan menuntun menuju
kemaksiatan, dan sesungguhnya kemaksiatan itu
akan menuntun menuju neraka. Dan tidaklah
seseorang selalu berkata dusta dan selalu memilih
kedustaan, sampai dia ditulis di sisi Allah swt
sebagai orang yang pendusta (HR. Muslim dari
'Abdullah bin Mas'ud)
Oleh karena itu Allah swt melarang kemaksiatan
dan sarana-sarananya. Allah swt telah
mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, baik
yang nampak maupun yang tidak nampak.Allah
swt juga melarang mendekati perbuatan-
perbuatan keji itu dan sebab-sebab yang
menghantarkan kepadanya. Semua itu sebagai
rahmat-Nya kepada para hamba dan menjaga
mereka dari perkara yang membahayakan
mereka di dunia dan akhirat.
Diantara perbuatan keji yang telah Allah swt
haramkan di dalam Kitab-Nya dan lewat lisan
Rasul-Nya adalah zina. Allah swt berfirman yang
artinya “Dan janganlah kamu mendekati zina,
Sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji
dan suatu jalan yang buruk” (Al-Isra:32)
Sarana-sarana yang menghantarkan menuju zina
juga diharamkan, seperti wanita keluar rumah
memakai parfum, membuka aurat kepada orang
lain, berbicara manja kepada laki-laki yang bukan
mahram, bersafar tanpa mahram, ikhtilath
(campur baur laki-laki dan perempuan), khalwat
(laki-laki berduaan dengan wanita yang bukan
mahramnya), tabarruj (perbuatan wanita yang
memamerkan dandanan dan perhiasan),
mengumbar pandangan kepada wanita yang
bukan mahram, dan lain-lain.
Ketika larangan Allah swt diterjang, maka apakah
yang terjadi? Kemaksiatan berantai membelenggu
sang pelaku. Akhirnya berujung kepada zina.
Ketika si wanita telah hamil karena zina, aborsi
ditempuh sebagai solusi. Dengan banyaknya
perzinaan, maka aborsi juga semakin meningkat
pesat. Padahal di dalam perbuatan aborsi terdapat
berbagai bahaya dan pelanggaran syariat yang
dilakukan. Maka perlu ada usaha bersama untuk
membendung perilaku menyimpang dari agama
ini, sehingga harapan mearaih kebahagiaan dunia
dan akhirat bisa diraih oleh umat ini dengan ridha
ilahi.
Diambil dari Majalah As-Sunnah, Jumadil Tsani
1430/Juni 2009 Memilih Suami / Istri Dengan Cinta Mencintai
istri
adalah
suatu
yang
diwajibkan
Allah
atas
suami.
begitu
juga
mencintai
istri.
saling mencintai satu sama lain akan menciptakan
keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah
sebagaimana yang banyak didambakan oleh
semua pasangan suami istri. dan saling
mencintai dengan dasar iman (karena perintah
Allah) adalah kunci bahwa cinta ini tidak akan
padam.
Lalu bagaimana dengan seorang yang akan
menikah? bagaimana mencintai dan bagaimana
dicintai? dan bagaimana cara memilih suami/istri
juga dengan dasar iman?
Cinta sejati adalah cinta seorang suami kepada
istrinya dan cinta istri kepada suaminya.
Cinta sejati adalah cinta seorang suami kepada
istrinya dan cinta istri kepada suaminya. seorang
suami sadar akan tanggung jawabnya sebagai
pemimpin keluarga dan seorang istri sadar akan
posisinya sebagai penanggung jawab rumah
tangga adalah bukti cinta tersebut. dan bukan
cinta seperti itu yang menjadi dasar seseorang
yang akan menikah untuk memilih siapa
pendamping hidupnya.
Adalah dengan cinta kepada Allah dan RosulNya
yang menjadi dasar seorang yang ingin menikah.
apa maksudnya? yaitu mempelajari kriteria yang
Allah dan RosulNya sarankan dan
memprakteknya ketika memilih calon istri/suami.
Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- bersabda :
ﺎﻬﻟﺎﻤﺠﻟﻭ ﺎﻬﺒﺴﺤﻟﻭ ﺎﻬﻟﺎﻤﻟ ﻊﺑﺭﻷ ﺓﺃﺮﻤﻟﺍ ﺢﻜﻨﺗ
ﻙﺍﺪﻳ ﺖﺑﺮﺗ ﻦﻳﺪﻟﺍ ﺕﺍﺬﺑ ﺮﻔﻇﺎﻓ ﺎﻬﻨﻳﺪﻟﻭ
Artinya : "Wanita dinikahi karena 4 hal : hartanya,
kemuliaannya, kecantikannya dan agamanya.
maka pilihlah yang memilihi agama maka engkau
akan beruntung." (HR Muslim)
Wanita yang paham agama akan mengetahui
kewajiban-kewajibannya sebagai seorang istri
dan sadar akan tanggung jawabnya. ini adalah hal
yangpaling utama. dan setelah itu baru
memperhitungkan kecantikannya, hartanya dan
kemuliaannya.
Bagi seorang wanita yang akan menikah, atau
khususnya bagi walinya. untuk tidak menolak
seseorang baik akhlaq dan agamanya yang
datang melamarnya. Rosulullah -sholallahu 'alaihi
wasallam- bersabda :
ﻩﻮﺟﻭﺰﻓ ﻪﻘﻠﺧﻭ ﻪﻨﻳﺩ ﻥﻮﺿﺮﺗ ﻦﻣ ﻢﻜﻴﻟﺇ َﺐَﻄَﺧ ﺍﺫﺇ،
ﺽﺭﻷﺍ ﻲﻓ ﺔﻨﺘﻓ ﻦﻜﺗ ﺍﻮﻠﻌﻔﺗ ﻥﺃ ﻻﺇ،ﺾﻳﺮﻋ ﺩﺎﺴﻓﻭ
Artinya : "Jika datang kepada kalian seseorang
yang engkau ridhoi agama dan akhlaqnya
melamar (anak perempuan kalian) maka segera
nikahkanlah (terima), jika tidak akan terjadi fitnah
dibumi ini dan kerusakan yang besar." (HR At-
Tirmidzi)
Melaksanakan apa yang Allah dan RosulNya
perintahkan perihal adab-adab dan tata cara
memilih suami/istri bagi orang yang ingin
menikah dan meluruskan niatnya akan menuntun
kita kepada cinta sejati dan akan
menghindarkan kita dari mencintai karena nafsu
dan dampak buruk panah setan. wallahu a'lam. <<BACK